Setali Tiga Uang: Fiat Money, FRB dan Interest

Sebelum masuk bulan Ramadhan kemarin, saya menyempatkan membaca buku Satanic Finance, buah tulisan dari A. Riawan Amin, mantan dirut bank Muamalat yang sekarang menjadi salah satu director di CIMB Niaga Syariah (kalau belum berpindah).

Judul bukunya ‘sangar’ dan memang Riawan Amin hendak menggambarkan ‘sesangar’ itulah sistem keuangan dan perbankan yang berlangsung saat ini.

Riawan Amin membuka bukunya dengan pembahasan tiga pilar setan: uang fiat, fractional reserve banking/requirement dan interest/bunga.

Kita coba kupas satu persatu.

Fiat Money

Riawan membahas mengenai fiat money dengan menceritakan kisah Sukus dan Tukus yang disarikan dari buku The Theft of Nations karangan Ahmad Kameel Mydin Meera.

Kisah ini secara logis menganalogikan lahirnya uang fiat. Dimana ada 2 suku bangsa yang satu terbiasa menggunakan koin emas sebagai alat tukar dan yang satu lagi menerapkan sistem barter dalam perdagangan.

Kemudian datang orang asing dari luar dua suku bangsa tersebut. Kepada suku yang menggunakan emas, orang asing tersebut menawarkan alat tukar yang lebih memudahkan, yakni uang kertas.

Setiap 1 keping koin emas ditukarkan dengan 1 uang kertas dengan janji bahwa koin emas akan disimpan secara aman dan setiap pemegang uang kertas bisa menukarkan kembali menjadi koin emas kapan saja.

Semua berjalan lancar, semua koin emas telah ditukar menjadi uang kertas. Dan pada kenyataannya pemegang uang kertas yang menukarkan kembali menjadi koin emas tidak lebih dari 10%.

Maka dengan piciknya orang asing ini terus saja mencetak uang kertas, meskipun tidak ada lagi koin emas yang hendak ditukarkan. Uang kertas ini didistribusikan melalui orang yang sudah kehabisan koin emas; dipinjamkan dan mesti dikembalikan senilai pinjaman ditambah 10%.

Dari sini kemudian kita mengenal istilah mencetak uang kertas dari awang-awang dan mulai berlakunya sistem bunga/interest yang merupakan riba.

Kesuksesan uang kertas ini terdengar oleh suku bangsa yang terbiasa menerapkan sistem barter. Mereka juga ingin menikmati sistem uang kertas ini. Dipanggillah orang asing yang memperkenalkan uang kertas.

Orang asing setuju untuk membantu juga memberikan uang kertas pada suku ini, meskipun tanpa ditukar dengan koin emas. Sebagai gantinya, uang kertas tersebut dipinjamkan dan mesti dikembalikan sejumlah nilai pinjaman dengan ditambah nilai 10% sebagai biaya jasa.

Beginilah analogi asal mula sistem uang kertas muncul; mulai dengan uang kertas yang dibackup penuh dengan emas, kemudian tanpa backup emas dan terus menggerojok pasar setiap kali ada yang membutuhkan alias setiap kali orang pinjam.

Fractional Reserve Banking (FRB)

Fractional reserve banking, kita mengenalnya sebagai giro wajib minimum (GWM).

Adalah tata aturan perbankan modern yang mengatur dana minimal yang mesti dikelola/dipunyai oleh sebuah bank dan merupakan uang tunai fisik siap pakai yang jumlahnya merupakan sebagian saja dari total saldo jumlah dana nasabah yang disimpan di bank tersebut.

Di Indonesia, saat ini GWM yang berlaku sekitar 8%.

Berarti jika kita menyimpan dana di bank senilai 100juta, maka bank cukup menyisakan uang fisik kita ini sejumlah 8jt.

Atau dalam kalimat lain, jika ada uang fisik terkumpul sebanyak 100 juta pada sebuah bank, maka bank tersebut berhak menyalurkan pinjaman dana sampai dengan 1.25 milyar.

Terus darimana uang tambahan yang lebih dari 1 milyar bisa disalurkan sebagai pinjaman?

Dari awang-awang. Karena sekarang semuanya telah menggunakan komputer, maka bank cukup menambahkan entry angka ke dalam sistem, maka muncullah uang lebih dari 1 milyar tersebut.

Agar lebih mudah memahaminya, kita bahas dengan contoh.

Budi menabung di bank A senilai 100 juta dengan pecahan 100.000 sejumlah 1000 lembar.

  • Berarti saldo rekening Budi ada 100 juta. Total jumlah uang beredar (money supply) juga 100 juta. Jumlah uang fisik juga 100 juta.
  • Rasio dana fisik minimal yang mesti dipunyai dengan total dana pihak ketiga: 100juta/100juta x 100% = 100%, masih jauh di atas dari GWM yang 8%.

Tono meminjam uang di bank A senilai 92 juta.

Untuk menggerakkan ekonomi dan memperoleh keuntungan, bank menyalurkan dana tabungan ke dalam bentuk pinjaman. Namun apakah dana tabungan Budi berkurang menjadi 8 juta? Ternyata tidak.

  • Saldo rekening Budi tetap 100 juta.
  • Saldo rekening Tono menjadi 92 juta (pinjaman).
  • Total money supply menjadi 192 juta. Total uang fisik tetap 100 juta.
  • Rasio uang fisik terhadap total saldo: 100/192 * 100% = 52.08%. Masih di atas GWM.
  • Ketika muncul pinjaman, maka ketika itulah uang tercipta (dari awang-awang).

Tono menarik seluruh saldonya di bank A, memindahkan uangnya ke bank Z.

  • Saldo rekening Budi tetap 100 juta.
  • Saldo rekening Tono menjadi 0.
  • Total uang fisik tinggal 8 juta. Total saldo tinggal 100 juta.
  • Rasio uang fisik terhadap total saldo: 8/100 * 100% = 8%. Pas sesuai batas GWM.

Total money supply di kedua bank tetap 192 juta.

Dari sini kita kemudian paham kenapa bank sangat khawatir akan terjadinya rush atau penarikan dana nasabah secara besar-besaran dalam satu waktu.

Karena pada hakikatnya, meski terulis saldo kita senilai 100 juta, uang fisik yang ada sebenarnya tidak sebanyak saldo yang tertulis.

Kita juga menemukan sebuah matematika bentuk baru, matematika bank: 100 – 92 = 192. Bukan 8. Merujuk pada total saldo yang tertulis di rekening Budi dan Tono 🙂

Lalu, apakah uang yang tercipta dari awang-awang tadi tetap bisa digunakan?
Dengan bantuan ATM, kartu debit/kredit, internet banking, maka uang tersebut tetap dapat ditransaksikan.

Interest

Dengan dalih sebagai biaya dalam memberikan pinjaman, maka bank membenarkan hak untuk memungut tambahan pengembalian bagi setiap pinjaman. Kita kenal pungutan tambahan ini sebagai bunga. Riba yang haram.

Kembali menengok kisah Sukus dan Tukus diatas; jumlah uang kertas yang dicetak 1000 lembar, dipinjamkan kepada 10 orang masing-masing 100 lembar dan wajib mengembalikannya masing-masing menjadi 110 lembar dalam 1 tahun.

Total pengembalian berarti menjadi 110 x 10 = 1100, sementara uang yang tersedia cuma ada 1000 lembar.

Kenyataan ini hanya akan membawa kita kepada fakta bahwa untuk melunasi hutang, seseorang mesti ‘merebut’ uang orang lain dan kemudian pastilah ada orang lain yang akan gagal membayar hutang.

Secara sistem, kekayaan hanya akan bertumpu pada orang yang mampu ‘merebut’ uang orang lain dengan baik dan orang lain yang tidak mampu akan semakin miskin dan tenggelam oleh hutangnya.

Dan sayangnya, dengan 3 hal inilah sistem ekonomi dunia ditopang dan terus digerakkan secara masif.

Dengan pahamnya kita akan hal ini, insya Allah kita jadi lebih tahu bagaimana sebaiknya kita mengambil posisi.

Banyak hal terkait sistem ekonomi yang berada di luar kendali kita, namun tetap ada hal yang bisa kita lakukan sebagai individu: hindari hutang dan sokong uang/harta kita dengan sesuatu yang bernilai intrinsik, salah satunya emas.

Wallahu’alam.

*ps: foto oleh bariparamarta

place your ads here

6 Responses

  1. awalludin 6 years ago
  2. pindar n 6 years ago
  3. try 6 years ago
  4. Dedy A 6 years ago
  5. kurotsuki 6 years ago
  6. sunoto 6 years ago

Add Comment

GRATIS!

Update Seputar Emas, Bisnis, Investasi dan Tips Financial + BONUS: Investasi Emas Bagi Orang Awam (free ebook)