Membangun Kemakmuran, Antara Jalan Panjang dan Jalan Pendek

Perihal kemakmuran dan bahasan menggapai kemakmuran adalah perihal tua, mungkin setua umur peradaban manusia itu sendiri.

Sebagian orang membangun kemakmuran dengan mengandalkan tenaga, pikiran, waktu dan aset yang dimiliki secara sungguh-sungguh; menghasilkan pendapatan dengan melakukan kreasi terhadap sesuatu sehingga menjadi sesuatu yang lain yang mempunyai nilai tambah ekonomi bagi manusia.

Seorang petani bertani/bercocok tanam, menggarap lahannya beserta para pekerja lainnya, mulai dari menggarap tanah, menanam biji, memelihara, memberi pupuk sampai kemudian sayur yang dari biji tersebut berbuah dan siap jual ke pasar.

Seorang pengusaha makanan membeli banyak kentang dari pasar atau langsung dari petani, kemudian mengolahnya di pabrik dengan dibantu oleh banyak karyawan, menghasilkan keripik kentang dalam kemasan yang siap jual ke gerai-gerai ritel.

Inilah konsep membangun kemakmuran dengan cara jalan panjang, kita mengenalnya sebagai sektor riil. Jalan membangun kemakmuran yang bisa memakmurkan banyak orang, tidak hanya terpusat pada individu yang membangunnya.

Bahwa kemakmuran bisa diperoleh oleh siapapun yang siap berkeringat dengan tenaganya, meluangkan waktu dan pikirannya untuk mengolah aset yang dia punya dan mendatangkan manfaat bagi manusia yang lain.

Sementara ada sebagian manusia yang lain membangun kemakmuran dengan mengandalkan modal besar yang dia punya, sedikit waktu, tenaga, pikiran dan ‘keberuntungan’.

Seorang pemodal sangat besar masuk ke pasar saham, membeli saham yang biasa saja, dengan strategi menggoreng kemudian harga saham tersebut naik signifikan, ketika naik dia jual semua saham yang dia punya. Dalam waktu 1-2 hari, si pemodal besar ini sudah bertambah makmur sendirian.

Seorang lain menaruh lebih dari separuh kekayaannya dalam deposito dan ORI. Dengan berharap pada interest (bunga), maka pada waktunya dia akan bertambah makmur tanpa perlu bekerja.

Tahun 2008 kita ingat raksasa finansial di AS memperjualbelikan surat utang perumahan secara sembrono demi meraup kemakmuran. Pada satu waktu mereka bertambah sangat makmur, namun di waktu yang lain dikarenakan kesembronoannya mereka juga jatuh sejatuh-jatuhnya.

Inilah konsep membangun kemakmuran dengan cara jalan pendek, jalan ini difasilitasi oleh yang kita kenal sebagai sektor finansial/keuangan.

Ketika orang bisa memperjualbelikan kertas yang ‘seolah-olah’ berharga, namun tidak didukung dengan aset yang memadai atau bahkan tanpa aset yang sebenarnya.

Karakter yang melekat pada jalan pendek ini adalah interest, uncertainty dan gambling. Bersandar pada bunga/riba, ketidakpastian dan cenderung judi.

Kemakmuran yang dibangun dengan jalan pendek hanya akan berputar pada segelintir orang yang mampu secara kapital; yang kaya makin kaya, yang miskin tidak ikutan kaya, bisa jadi malah makin miskin.

Celakanya, ketika terjadi ketidakberesan pada jalan pendek, maka imbas negatifnya akan signifikan terhadap semuanya, termasuk pada ekonomi riil yang dibangun dengan jalan panjang. Tentu kita masih ingat kejadian 1997 dan 2008 kemarin.

Dan hari-hari ini kita menyaksikan demo besar-besaran di seputaran Wall Street dan kemudian meluas ke berbagai negara lainnya.

Tidak lain dan tidak bukan karena kemakmuran yang berputar pada segelintir orang yang menempuh jalan pendek, sementara sebagian besar yang lainnya tetap menganggur; pertumbuhan ekonomi yang ditopang oleh ‘permainan’ jalan pendek hampir-hampir tidak memberikan dampak yang sesungguhnya dari arti membaiknya ekonomi.

Ekonomi nampak tumbuh, tapi tidak membuka lapangan pekerjaan. Ekonomi dibilang tumbuh, tapi rakyat miskin makin meningkat.

Karena pertumbuhan ekonomi yang ditopang oleh jalan pendek, tidak akan memberikan dampak yang nyata pada kondisi sesungguhnya.

Berinvestasi emas secara berlebihan dan sembrono bisa masuk ke dalam kategori membangun kemakmuran melalui jalan pendek.

Artikel ini mudah-mudahan menjadi pembuka bagi artikel-artikel lain mengenai bagaimana kita bisa memproduktifkan investasi emas kita sehingga bisa berdampak riil terhadap pertumbuhan ekonomi dan menjauh dari jalan pendek.

Dan juga artikel ini bisa menjadi semacam ‘pondasi’ bagi banyak pertanyaan mengenai berbagai tawaran investasi (berkedok) emas yang nampak menggiurkan. Sesuatu yang terlalu menggiurkan mestinya membuat kita lebih panjang berpikir.

Bahwa tidak ada kemakmuran yang bisa dibangun secara instant melainkan kita tengah berjalan ke tepi jurang. Wallahu’alam.

jual cepat emas antam

GRATIS!

Update Seputar Emas, Bisnis, Investasi dan Tips Financial + BONUS: Investasi Emas Bagi Orang Awam (free ebook)