Latte Factor: 8 Kebocoran Uang Yang Tanpa Sadar Sering Orang Lakukan

latte_factor

Kesalahpahaman terbesar banyak orang tentang membangun kekayaan adalah bahwa kaya merupakan akumulasi dari uang yang bisa kita hasilnya. Pada kenyataannya, menjadi kaya lebih cenderung karena kebiasaan belanja kita.

Kebanyakan orang tidak menyadari berapa banyak uang yang mereka keluarkan; bukan pada belanja besar, tetapi pada belanja kecil yang diakukan setiap hari.

David Bach, seorang penulis keuangan, mengistilahkan hal ini sebagai Latte Factor; angka kecil yang kita habiskan (tanpa sadar) di sana-sini.

Jika kita bisa memindahkan biaya Latte Factor ini menjadi tabungan atau diinvestasikan, maka kita bisa membangun kekayaan lebih cepat dari yang kita bayangkan.

David mencoba melakukan pelacakan terhadap Latte Factor ini pada ratusan orang (di Amerika) dari semua latar belakang sosio-ekonomi yang berbeda.

Berikut adalah 8 kebocoran uang yang tanpa sadar sering dilakukan:

#1. Makan di Luar

Warga Amerika pergi keluar untuk makan siang rata-rata dua kali seminggu dan rata-rata menghabiskan $ 232 (sekitar 2.9 juta rupiah) setiap bulan makan makanan yang disiapkan di luar rumah.

Di Jakarta, kondisinya kemungkinan besar mirip; rata-rata 2x/pekan makan di luar bersama keluarga dengan rata-rata sekali makan 300rb. Total tidak kurang dari 2jt sebulan.

Akumulasinya mulai dari makan siang keluarga, makan dengan rekan bisnis, beli kudapan ketika lewat McD, mampir Indomart/Alfamart, pulang kantor sembari menenteng Pizza, dlsb.

Kita tidak pernah membuat semua pembelian tersebut pada hari yang sama, tetapi selama 30 hari, angkanya pasti makin membesar tanpa sadar.

#2. Ngopi/Ngafe

Ngopi di kafe memainkan peranan penting dalam menjalin relasi di seluruh Amerika Serikat dan juga termasuk di Indonesia. Tapi jarang sekali kita menyadari betapa banyak uang yang kita habiskan untuk hal ini.

Warga Amerika rata-rata menghabiskan hampir $15 seminggu pada kopi atau $1.100 per tahun. Sampai di Indonesia (Jakarta), menjadi sekitar 1 juta per bulan.

Jika diakumulasi baru terasa besarnya. Bayangkan jika 1 juta per bulan bisa kita tabung atau belikan emas, dalam satu tahun kita bisa mengumpulkan sekitar LM 25gr emas.

#3. Buku dan Majalah

Membaca itu penting dan kita mendorong banyak orang untuk banyak membaca. Namun jika Anda pembaca produktif, Anda mungkin tidak menyadari berapa banyak uang yang Anda keluarkan untuk belanja buku dan majalah (printed/digital).

Pembeliannya memang kecil, namun sering dan konsisten dan pada akhirnya terakumulasi menjadi besar. Tidak jarang orang yang mencoba menhitung pengeluaran untuk membaca ini menjadi terkejut berapa banyak pendapatan mereka dihabiskan disana .

Untuk mengurangi pengeluaran pada area ini kita bisa memanfaatkan perpustakaan umum. Solusi lain adalah untuk menemukan sekelompok teman-teman atau keluarga yang secara teratur saling bertukar dan meminjam buku satu dengan sama lain.

#4. Tagihan Layanan yang Kurang Berguna

Membayar tagihan layanan tanpa pernah secara teliti menelaah dan mengevaluasinya menjadikan kita berlebihan dalam membayar.

Apakah Anda menonton semua chanel TV kabel langganan dan apakah Anda membayar untuk itu? Kapan terakhir Anda memanfaatkan telepon rumah dan perhatian dengan paket bayarannya?

Mengambil beberapa menit untuk melihat kembali tagihan Anda dan bertanya pada diri sendiri apakah Anda membutuhkan semua layanan tersebut bisa membuat Anda menghemat pengeluaran setiap bulan.

#5. Biaya Administrasi Bank

Ketika kita tidak meluangkan waktu untuk melihat kembali laporan rekening bank, kita sering tanpa sadar membayar terlalu banyak atas biaya administrasi bank.

Fee based transaction menjadi profit center bagi bank yang seringkali kita tidak cukup perhatian untuk menghitungnya; tarik tunai bank A dari ATM bank B, transfer antar bank, membayar tagihan-tagihan, dlsb.

Luangkan waktu untuk melihat rekening koran Anda dan temukan cara bagaimana kita bisa lebih efektif dalam membayar biaya administrasi bank ini.

#6. iTunes/PlayStore

Sebagian besar dari kita memiliki smartphone di mana kartu kredit kita secara otomatis terkait dengan sebuah toko online (iTunes/PlayStore). Hal ini mendorong kita untuk lebih mudah menekan tombol “Beli”, menjadikan kita impulse buyer, toh nilai pembeliannya tidak seberapa, cuma $1.

Lagu baru, aplikasi atau games yang menarik, buku atau majalah yang menggoda untuk dbaca, dlsb. Tanpa kita sadar, akumulasi tagihannya membuat kita terpengarah ketika waktunya tiba untuk membayar.

#7. Tiket Lotere

Lotere dan judi haram dan dilarang di Indonesia.

Di negara yang melegalkan lotere, seperti di Amerika, banyak orang yang sekilas merasakan harapan ketika membeli tiket lotere ketika mereka tengah dalam kondisi struggle secara finansial.

Nilai pembelian tiketnya memang kecil $2-$5, namun ilusi harapan yang muncul membuat banyak orang Amerika jadi terus menerus membelinya. Ilusi seperti ini hanya membuat kondisi makin kacau.

#8. Belanja Online

Awal mulanya dari belanja barang seharga puluhan ribu, kemudian menjadi barang senilai ratusan ribu dan tanpa sadar dilakukan berulang-ulang dalam sebulan.

Belanja online ini nampaknya kecil dan tidak signifikan, namun seiring waktu impulse buying ini membesar angkanya menjadi sangat signifikan. Latte factor.

Cara paling efektif untuk menemukan Latte Factor dalam pengeluaran kita adalah dengan mencatat seluruh pengeluaran kita (kecil/besar), memeriksanya secara detil. Coba lakukan ini selama 1 bulan, lebih bagus jika bisa dilakukan selama 3 bulan. Nanti akan terlihat pada area mana Anda ‘lemah’.

Perhatikan kebocoran kecil, cegah bocor kecil ini menjadi banjir bandang. Dan pada akhirnya akan banyak pengeluaran yang bisa Anda switch menjadi tabungan atau investasi yang lebih menjanjikan untuk masa depan.

Selamat mencoba! 🙂

jual cepat emas antam

Add Comment

GRATIS!

Update Seputar Emas, Bisnis, Investasi dan Tips Financial + BONUS: Investasi Emas Bagi Orang Awam (free ebook)