Investasi (emas) Abal-Abal, Bagaimana Mewaspadainya?

Sejak beberapa waktu yang lalu, salah satu guru saya, bang Jay, tengah gencar berkampanye mengenai waspada investasi abal-abal.

Dua hari ini, guru saya yang lain, mas Saptuari, yang tengah di Hongkong untuk sharing mengenai membangun bisnis di hadapan kawan-kawan buruh migran juga mengungkapkan fakta menyedihkan bahwa tidak sedikit kawan-kawan buruh migran yang ‘terjerat’ investasi emas abal-abal.

Dan pagi ini kita dikejutkan dengan headline Kontan seperti yang saya fotokan di atas. Pangkal masalahnya adalah seorang klien sebuah perusahaan perencanaan keuangan mengalami kerugian besar karena terjerat investasi abal-abal yang dikenalkan oleh perencana keuangan tersebut.

Investasi abal-abal tersebut adalah GTIS, Trimas Mulia dan Panen Mas.

GTIS dan Trimas merupakan investasi yang melibatkan emas yang berimbal hasil tetap, pernah saya bahas disini dan Panen Mas merupakan investasi perkebunan dan peternakan.

Mari kita coba ulas cirinya sehingga kita bisa memasang rambu waspada dan mawas diri ketika ditawarkan investasi abal-abal.

Imbal Hasil Tetap Yang (terlalu) Tinggi

Sebuah investasi yang memberikan imbal hasil tetap saja patut dicurigai abal-abal, terlebih jika imbal hasilnya tinggi.

Kenapa imbal hasil tetap patut dicurigai? Karena tidak ada hasil usaha yang bisa secara konsisten terus menerus menghasilkan laba tinggi untuk dibagi; bisa merugi, kadang surplus, bisa pula untung besar.

Makin besar skala usaha dan modalnya, relatif makin sulit untuk bisa terus bertumbuh secara signifikan.

Itu berarti makin banyak investor yang bergabung, yang berarti makin banyak modal yang diputarkan, logikanya akan makin sulit untuk tetap menghasilkan pertumbuhan laba yang signifikan.

Terlebih dalam kaidah syariah, tidak diperbolehkan investasi memberikan imbal hasil tetap karena bisa dikategorikan sebagai riba.

Patokan tinggi/rendahnya imbal hasil bisa mengacu pada patokan angka inflasi tahunan dan angka imbal hasil deposito. Investasi bisa memberikan imbal hasil sedikit lebih tinggi dibandingkan angka imbal hasil deposito itu sudah cukup bagus.

Bisa memberikan imbal hasil 1.5-2x dari imbal hasil deposito itu bagus. Bisa memberikan imbal hasil lebih dari 2x dari imbal hasil deposito, kita perlu menelaah lebih dalam bagaimana cara pengelolaannya dan mulai waspada.

Dalam kasus investasi GTIS dan Trimas, keduanya menjanjikan imbal hasil investasi secara tetap sebesar 2-4% per bulan yang berarti 24-48% per tahun. Tetap dan tinggi.

Tips: kenali potensi dan resiko dari sebuah investasi, hindari investasi yang memberikan imbal hasil tetap.

Cara Pengelolaan/Model Bisnis Kurang Jelas

Untuk bisa memberikan imbal hasil, maka sebuah investasi mesti dikelola untuk diputarkan, bisa melalui sektor keuangan atau ke sektor riil maupun ke keduanya.

Investasi abal-abal biasanya kurang terang benderang dalam memaparkan kemana saja dana investor dikelola. Dan seringkali investor juga sudah buta mata untuk mencari tahu secara lebih detail mengenai cara pengelolaan dana investasinya, terlanjur tergiur oleh imbal hasilnya.

Selain informasi cara pengelolaan yang kurang jelas, biasanya juga tidak ada informasi total dana kelolaan yang sudah dihimpun dan total investor yang sudah bergabung.

Dalam kasus GTIS dan Trimas, investor ditawarkan emas batangan dengan harga 30-40% lebih tinggi dibandingkan pasaran dan dijanjikan imbal hasil fix. Disebutkan bagi hasil diperoleh dari perdagangan emas dan online trading. Namun perdagangan emas dan online trading yang bagaimanakah? Tidak begitu jelas.

Tips: cari tahu secara mendetail model bisnis dan cara pengelolaan dana investasi kita, pastikan perhitungannya masuk akal.

Legalitas Usaha Yang Kurang Jelas

Sebuah usaha yang secara terang-terangan melakukan penghimpunan dana masyarakat secara luas dan masif mesti mengantongi izin khusus dari OJK. Bukan perkara mudah untuk memperoleh izin ini karena memang OJK mesti berhati-hati.

Usaha yang menghimpun dana investasi secara luas dari masyarakat ini mesti memberikan laporan keuangan tiap bulan ke OJK serta melaporkan hasil audit tiap tahun.

Prosedur ini mesti dilakukan agar dana masyarakat bisa terlindungi dengan baik. Jika ada potensi penipuan, bisa dideteksi sedari awal oleh OJK.

Jika ada usaha yang hanya bermodal SIUP namun berani menghimpun dana investasi secara masif dari masyarakat, maka sebaiknya hindari investasi yang seperti ini.

Jika masih penasaran dengan investasi tersebut, kita bisa bertanya langsung kepada layanan konsumen OJK di 021 500 655 untuk memperoleh kejelasan.

Dalam kasus GTIS dan Trimas, keduanya belum mengantongi izin khusus dari OJK untuk melakukan penghimpunan dana masyarakat dan melakukan pengelolaan dana investasi serta menjanjikan imbal hasil investasi.

Tips: pastikan kejelasan legalitas usaha tempat kita berinvestasi dalam menghimpun dana masyarakat secara luas, jika ragu kita bisa bertanya ke OJK. Hindari yang belum mengantongi izin resmi.

Dengan mengedepankan akal sehat dan bukan sekedar emosi tergiur imbal hasil yang tinggi, semestinya 3 hal di atas bisa menghindarkan diri kita dari maraknya investasi abal-abal yang akan selalu menghampiri.

Stay smart! 🙂

place your ads here

Add Comment

GRATIS!

Update Seputar Emas, Bisnis, Investasi dan Tips Financial + BONUS: Investasi Emas Bagi Orang Awam (free ebook)